Tradisi Mesuryak di Bongan Gede “Diboyong” Juga Ke Lampung

  • 03 Agustus 2019
  • 08:44 WITA

 

Balitopnews.com, Tabanan

Hari raya kuningan merupakan rangkaian hari raya Galungan yang digelar setiap enam bulan sekali.  Ada beberapa tradisi unik dilaksanakan setiap hari raya Kuningan salah satu tradisi unik tersebut adalah tradisi mesuryak.

Tradisi mesuryak berlangsung secara turun temurun di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan Kecamatan Tabanan, Bali. Entah kapan mulainya digelar tradisi ini, para tetua di Banjar Bongan Gede pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan tetap lestari hingga saat ini. Bahkan tradisi mesuryak ini dibawa oleh masyarakat Bongan yang transmigrasi ke Lampung sekitar tahun 1958.

I Nyoman Suandhi (60) warga Bongan Gede yang transmigrasi ke Lampung tahun 1958 yang saat ini sedang merayakan Kuningan di Bongan Gede, mengatakan warga Bali yang transmigrasi ke Lampung tetap mempertahankan adat dan tradisi yang ada di Bali. Termasuk tradisi mesuryak. “Kami di Lampung juga tetap menjalankan tradisi mesuryak setiap enam bulan sekali tepatnya di hari raya Kuningan,” jelasnya disela sela mesuryak, Sabtu ( 3 Agustus  2019).

Ia yang tinggal di Desa Rama Dewa, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah menambahkan, prosesi mesyurak di Lampung juga sama percis dengan yang ada di Bali. “Hanya saja tidak seramai yang di Bali,” terangnya.  Pensiunan   Kepala Sekolah SD ini menuturkan, sebelum raja dwata ( para leluhur ) diantar menuju surga dilakukan prosesi mesuryak. “Kita antarkan leluhur kembali ke surga dengan penuh suka cita dan bersorak atau mesuryak,” jelasnya.  

Dikatakanya tidak hanya tradisi mesuryak yang dibawa ke Lampung, tradisi mepatung juga masih dipertahankan masyarakat Bali yang ada di Lampung. “Jadi semua tradisi adat dan budaya yang ada di Bali kami terapkan di Lampung namun sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada disana,” jelasnya.

Sementara itu salah satu tokoh masyarakat Bongan Gede I Ketut Alit Subagia mengatakan tradisi mesuryak sudah ada sejak turun termurun. “Tradisi mesuryak ini merupakan ucapan syukur kami kepada leluhur dengan suka cita melepas para lelulur kembali ke surga,” tandasnya.

Seperti biasa prosesi tradisi mesuryak di hari raya Kuningan diawali dengan melangsungkan persembahyangan  di Pura Dalem, kemudian dilanjugkan pesembahyangan di masing masing sanggah merajan sekitar pukul 09.30 Wita . Setelah prosesi persembahyangan di masing masing sanggah merajan selesai, kemudian  banten upacara hari raya Kuningan yang merupakan symbol dari para leluhur dibawa ke kori agung rumah masing masing. Di depan pintu atau kori,  segala macem banten sesanjen diupacarai oleh pemangku ataupun tetua, kemudian dilanjutkan dengan prosesi mesuryak. Memberi leluhur bekal berupa uang kertas maupun uang logam. Uang tersebut kemudian di lemparkan ke udara sambil mesuryak ( bersorak ) lalu diperbutkan oleh banyak orang laki perempuan anak anak dan dewasa.  Besaran uang yang digunakan mesuryak tergantung dari kemampuan warga.  Yang paling tinggi bisa sampai Rp 5 Juta paling rendah Rp 500 ribu. (Balitopnews.com/MD )

Komentar